iklim

Meskipun pemanasan global semakin cepat, ekosistem tidak mengalami percepatan—melainkan melambat. Para ilmuwan mengatakan perlambatan yang tak terduga ini bisa menjadi peringatan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati secara diam-diam menghentikan mekanisme pembaruan diri alam. Kredit: Shutterstock

Selama bertahun-tahun, banyak ahli ekologi berpendapat bahwa seiring intensifikasi pemanasan global, alam seharusnya berubah lebih cepat. Logikanya tampak sederhana. Kenaikan suhu dan pergeseran zona iklim akan memaksa spesies keluar dari beberapa daerah sekaligus membuka habitat baru di tempat lain, memicu kepunahan lokal yang lebih cepat dan kolonisasi yang pesat. Secara teori, ekosistem seharusnya mengalami perubahan dengan kecepatan yang semakin meningkat.

Namun, penelitian baru dari Queen Mary University of London (QMUL), yang diterbitkan di Nature Communications , menantang asumsi tersebut.

Setelah meneliti basis data global yang luas tentang survei keanekaragaman hayati yang mencakup ekosistem laut, air tawar, dan darat selama abad terakhir, tim tersebut menemukan tren yang berlawanan. Tingkat penggantian spesies di habitat lokal, yang dikenal sebagai “perputaran,” tidak meningkat. Sebaliknya, laju tersebut melambat secara signifikan.

Dr. Emmanuel Nwankwo, penulis utama studi ini, menggambarkan perubahan tersebut seperti ini: “Alam berfungsi seperti mesin yang memperbaiki diri sendiri, terus-menerus mengganti bagian-bagian lama dengan yang baru. Tetapi kami menemukan bahwa mesin ini sekarang sedang berhenti beroperasi.”

Pemanasan Global dan Perlambatan Perputaran Spesies

Para peneliti memusatkan perhatian pada perubahan sejak tahun 1970-an, ketika suhu permukaan global mulai meningkat lebih cepat dan perubahan lingkungan menjadi lebih nyata. Mereka membandingkan tingkat pergantian spesies, yaitu seberapa cepat satu spesies menggantikan spesies lain, sebelum dan sesudah periode pemanasan yang dipercepat ini.

Jika perubahan iklim adalah pendorong utama, seharusnya perputaran spesies meningkat. Namun, analisis menunjukkan bahwa dalam jangka waktu singkat 1-5 tahun, perputaran spesies umumnya menurun. Pola ini muncul di berbagai ekosistem, mulai dari komunitas burung di darat hingga kehidupan di dasar laut.

Profesor Axel Rossberg, salah satu penulis dari Queen Mary University of London, mengatakan: “Kami terkejut betapa kuatnya efeknya. Tingkat pergantian karyawan biasanya menurun sepertiga.”

Peran Dinamika Ekosistem Internal

Untuk memahami hasil yang tak terduga ini, tim tersebut melihat melampaui kekuatan iklim eksternal dan memeriksa bagaimana ekosistem mengatur diri mereka sendiri secara internal. Temuan mereka menunjukkan bahwa komunitas ekologis tidak hanya bereaksi terhadap perubahan suhu. Sebaliknya, mereka sering beroperasi dalam apa yang disebut fase “Multiple Attractors”, sebuah konsep yang diprediksi pada tahun 2017 oleh fisikawan teoretis Guy Bunin.

Dalam fase banyak atraktor ini, spesies terus menerus saling menggantikan karena interaksi biologis internal, bahkan ketika kondisi lingkungan tetap stabil. Proses ini dapat menyerupai permainan batu-kertas-gunting raksasa yang berkelanjutan, di mana tidak ada satu spesies pun yang mendominasi dalam waktu lama. Penelitian baru ini memberikan bukti nyata yang kuat bahwa fase banyak atraktor ini ada dan memainkan peran sentral dalam membentuk ekosistem.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati dan Degradasi Lingkungan

Jika dinamika internal ini biasanya menjaga ekosistem tetap bergerak, mengapa tingkat pergantiannya melambat?

Para peneliti berpendapat bahwa degradasi lingkungan dan penyusutan kumpulan spesies regional kemungkinan besar menjadi penyebabnya. Dalam ekosistem “fase penarik ganda” yang sehat, kumpulan spesies regional yang luas menyediakan aliran pendatang baru potensial yang stabil. Hal ini menjaga siklus penggantian tetap aktif.

Namun, seiring aktivitas manusia merusak habitat dan mengurangi keanekaragaman hayati di berbagai wilayah, jumlah spesies yang berpotensi menjadi kolonis pun berkurang. Dengan semakin sedikit spesies yang tersedia untuk masuk, laju pergantian spesies pun menurun.

Dr. Nwankwo mencatat: “Dalam penelitian lain, kita melihat indikasi yang jelas bahwa dampak manusia menyebabkan perlambatan perputaran. Ini mengkhawatirkan.”

Temuan ini menunjukkan bahwa ekosistem yang tampak stabil belum tentu sehat. Perlambatan perubahan spesies lokal sebenarnya dapat menandakan bahwa keanekaragaman hayati sedang terkikis dalam skala yang lebih besar, melemahkan proses alami yang biasanya menjaga ekosistem tetap dinamis dan tangguh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *